Showing posts with label Tugas Individu. Show all posts
Showing posts with label Tugas Individu. Show all posts

Monday, June 17, 2013

Tulus, Tangguh & Inspiratif



  Coba diacung tangannya, siapa yang tidak kenal dengan sosok di atas ini? Agak keterlaluan sih, pasalnya, belakangan ini beliau sedang menjadi pembicaraan di bidang pendidikan di Indonesia. Siapa beliau? Apa yang sudah beliau lakukan?

  Beliau adalah Een Sukaesih, warga Dusun Batukarut RT 01/06 Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang. Setamatnya dari program D3 jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung (1985), Bu Een mengabdi sebagai guru SMA di Cirebon.
   
  Sejak 1982, dokter telah memvonis Bu Een menderita Rheumatoid Arthritis atau peradangan sendi. Selama tiga tahun mengenyam pendidikan, Bu Een masih bertahan. Hingga setelah sebulan mengajar di Cirebon, bu Een harus pulang ke Sumedang karena menderita kelumpuhan di sekujur tubuhnya. Kelumpuhan ini memaksanya terus berbaring hingga saat ini.
  
  Selama 28 tahun terbaring di tengah penyakitnya, Bu Een tidak berdiam diri. Ia menjadi pengajar bagi anak-anak di sekitar rumahnya. GRATIS!!! Kebayang nggak sih bagaimana besarnya hati bu Een? Beliau sakit, terkapar, tapi dengan semangatnya yang sangat besar untuk memajukan pendidikan Indonesia itu, Bu Een masih bersedia nggak dibayar untuk mendidik anak Indonesia. Life for Education, itu prinsip hidupnya. Salut ya!! :''')


  Cerita tentang bu Een mulai menyeruak di acara penganugerahan Liputan6 Awards yang diselenggarakan oleh Liputan6 SCTV. Kategori Special Award yang diterima Bu Een diberikan langsung oleh Bapak Jusuf Kalla. Bu Een yang terbaring di kasurnya didorong ke atas panggung oleh murid-murid dan keluarganya. Seluruh hadirin acara tersebut langsung berdiri, bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata saat piala tersebut diterima oleh Bu Een.

  Saya pribadi, yang memang sangat sensitif dengan momen-momen seperti ini, langsung banjir air mata. Apalagi saat Keith Martin mempersembahkan lagu Because of You untuk Bu Een. Itu rasanya nggak bisa saya sebutkan lagi. Dada saya sampai sesak karena bahagia dan harunya melihat penghargaan itu jatuh ke tangan yang tepat. Bahkan untuk menulis paragraf ini, rasa haru itu masih menyeruak.
  Lalu momen mengharukan lainnya pada saat Bu Een diundang pihak Universitas Pendidikan Indonesia, dulunya IKIP Bandung tempat Bu Een menimba ilmu, untuk menerima penghargaan sekaligus berbagi pengalaman. Disana Bu Een dipertemukan dengan personel Bimbo yang merupakan salah satu penyanyi favoritnya. Bu Een langsung menangis saat Acil  mencium keningnya, begitupun saya yang menonton di televisi. Bu Een juga menangis saat Ebiet G. Ade menyanyikan lagu untuknya. Tangis Bu Een kian menjadi ketika Bu Een dipertemukan dengan dosen favoritnya yang kini menjadi Rektor UPI.
  
  Melihat Bu Een, saya merasakan dua hal yang berkontradiksi. Saya sangat bangga bahwa Indonesia masih memiliki Bu Een dan semoga ada Bu Een lainnya. Tapi saya jauh lebih malu lagi, karena saya yang alhamdulillah sehat fisiknya tidak berbuat apa-apa yang lebih besar dari yang dilakukan Bu Een.

  Ketulusan Bu Een wajib kudu mesti harus menjadi pedoman bagi kita semua. Kekurangan itu bukan menjadi pembatas bagi siapapun untuk melakukan hal-hal yang besar dan mulia untuk lingkungan sekitar. Duuuh, banyak sekali loh yang bisa kita pelajari dari Bu Een. Semoga guru-guru masa kini dan masa depan bisa memiliki pandangan seperti Bu Een, yang tidak mengutamakan uang dan kepentingan pribadi. Amin.

  Menjadi guru yang biasa saja sulit, apalagi guru sangat luar biasa seperti Bu Een. Semangat terus, Bu Een!

Monday, May 20, 2013

Pembelajaran Bersama


DEG.. DEG.. DEG..
Loh, kenapa? Saya sedang deg-degan nih, Reds. Besok giliran kelompok saya mempresentasikan hasil tugas pengajaran kelompok kami di hadapan teman-teman sekelas dan juga Bu Dina. Sebenarnya sih saya nggak terlalu takut dengan hasil tugas kelompok kami. Saya rasa tugas pengajaran kami sudah pas dengan landasan teori yang kami pilih sebelumnya. Walaupun setelah menonton kembali videonya, saya lebih merasa tugas pengajaran kami terlihat seperti demo masak, tidak seperti video pengajaran teman-teman lainnya. Tapi nggak apa-apa, begitulah hasil kerja kami dan saya harus menghargai kerja keras kami.
Lah, terus apa dong yang buat deg-degan? Yaaah, ada satu dan lain hal yang nggak mungkin saya sebutkan disini karena akan menyebabkan tersinggungnya banyak pihak. Tapi salah satunya adalah kejadian di kelas minggu lalu. Kelas yang awalnya anteng, jadi tegang. Sebenarnya bukan salah Bu Dina juga kalau beliau marah, saya pun mungkin akan tersinggung jika kejadiannya sama. Untuk masalah slide, saya nggak terlalu khawatir karena saya sudah mencoba membuat slide sesuai dengan isi postingan di blog dan saya juga memperbaiki kekurangan-kekurangan slide kami dari beberapa presentasi kelompok sebelumnya.
Oh ya, terkait presentasi, pada awalnya saya ngedumel sih, kenapa Bu Dina meletakkan kelompok saya di hari terakhir kesempatan presentasi. Padahal, kan, kalau semakin awal, semakin cepat selesainya, jadi saya bisa fokus ke tugas yang lain. Tapi setelah saya mengetahui sesuatu hal, saya malah sangaaaat bersyukur dan berterima kasih kepada Bu Dina karena meletakkan kami untuk presentasi di hari terakhir. Apa sih apa sih?? Raffles belum posting tentang tugas kelompok ini di blognya!!!! Aaaaaaah rasanya pagi itu saya semakin lemas. Ya ampun, bisa-bisanya dia belum  posting padahal tanggal 5 Mei itu sudah saya ingatkan via sms L L L L Saya mau nangis rasanya, ketakutan. Di otak saya udah berseliweran pertanyaan dari Bu Dina kenapa Raffles belum posting. Winda dan Rajief yang duduk di sebelah kiri saya hanya bisa geleng kepala. Saya nggak bisa marah lagi sama Raffles, saya cuma minta dia segera memposting blog-nya setelah kelas selesai (Barusan saya cek blognya. Alhamdulillah, sudah posting. Tapi copas dari Merry dan baru diposting Sabtu, 18 Mei 2013 -___- Ya Tuhan, saya nggak paham lagi bagaimana mengingatkan teman saya yang satu ini). Dengan ini saya benar-benar bersyukur lagi kepada Tuhan, artinya mungkin Bu Dina masih memberikan kelompok kami kesempatan supaya Raffles sempat memposting blognya terlebih dahulu sebelum kami maju presentasi.
Reds, isi postingan ini bukan untuk menjelekkan siapa-siapa. Serius. Ini untuk pelajaran bersama. Apalagi buat saya. Dalam kejadian ini saya juga salah karena kurang peduli dengan anggota kelompok. Seharusnya saya lebih peka lagi, apalagi kepada Raffles. Saya juga salah nggak mengecek satu persatu blog teman-teman saya karena saya terlalu percaya bahwa semua bisa diandalkan. Sudah lah, apalagi yang mau disesali semuanya sudah terjadi. Yang penting Tuhan menunjukkan bahwa saya masih memiliki kekurangan yang haru diperbaiki dan setiap kejadian itu ada hikmahnya. Alhamdulillah.

Saturday, May 4, 2013

Ujian Nasional 2013


Aaaaaaak! UTS selesai sudah, Reds! Lega sekali rasanya. Walaupun ada beberapa mata kuliah yang saya merasa nggak bisa maksimal L Tapi nggak apa-apa, insya Allah di UAS nanti semua mata kuliah bisa dimaksimalkan. Amin.
Oh ya, alhamdulillah, nilai uts untuk mata kuliah paedagogi sudah diumumkan di facebook group. Dan alhamdulillah lagi, nilai saya memuaskan. Memang ya, Reds, benar kata-kata Mama. Begini:

“Kak, hidup itu nggak wajib punya target. Tapi kamu wajib punya arah dan tujuan. Apapun tujuan kamu, jalanilah dengan sungguh-sungguh dan berikan yang terbaik.
Buruk pun hasilnya nanti, itu penilaian orang. Yang penting, itu adalah usaha terbaik Kakak yang nggak akan Kakak sesali nantinya,”
- The best mother in the world –
 
Senangnya lagi nih, nilainya dipublikasikan. I really appreciate transparency, you know. Dengan saya tau berapa nilai uts saya, kalaupun nilai saya rendah, saya tahu memaksimalkan dan memperbaikinya di tugas dan ujian kedepannya. Benar, kan?

Oke, karena saya juga bingung mau membahas apa terkait mata kuliah, kali ini kita intermezzo aja dengan isu-isu yang sedang berkembang di dunia pendidikan. Apa dong?
Reds, pasti kalian tau dong dengan fenomena Ujian Nasional (UN) 2013 tahun ini? Berantakan sekali! Bisa-bisanya lembar soal kurang, lembar jawaban mudah robek. Dan bukan hanya tingkat SMA saja, SMP juga. Sejauh ini, Dinas Pendidikan menunjuk percetakan sebagai biang kesalahan. Sementara percetakan menyangkal dan menyebutkan bahwa soal UN dari pemerintah baru diberikan H-23 UN. Duh, nggak tau deh ya yang mana yang benar. Tapi tetap saja, kan, itu kesalahan.
Kenapa saya ikutan emosi? Sekolah saya dulu ketika SMA, terkena musibah ini juga. Adik-adik kelas saya di IPS, kekurangan lembar soal dan lembar ujian yang menyebabkan mereka harus menunda pelaksanaan UN selama seminggu. Kasihan, Reds! Salah satu dari mereka kebetulan sering ngumpul bareng saya dan teman-teman. Dia cerita tentang musibah ini, sedih deh dengarnya. Padahal cowok, nggak biasa untuk bersedih-sedih. Dia bilang kalau persiapannya fisik dan mental sudah total, tapi begitu tiba di sekolah dan mendengar kabar penundaan itu rasanya bingung harus bagaimana.
Itu di sekolah saya ya, yang posisinya di pinggiran kota tapi bisa dicapai dengan alat transportasi. Tapi bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok sana, yang ke sekolah harus jalan berkilometer, yang ke sekolah harus menyeberang sungai dan membahayakan diri? Kasihan sekali, kan, Reds, kalau sesampainya di sekolah hanya untuk mendengar kabar penundaan. Duh, pemerintah apa nggak kepikir sampai kesini ya? (-__-)/[___]
Belum lagi soal ujian 20 paket. Hayyaaaaa, pusing euy. Mungkin niatnya baik sih supaya nggak terjadi kecurangan contek-mencontek. Ealah apanya. Teman mama saya kok ya dengan bangganya cerita kalau anaknya dapat kunci jawaban dari sekolahnya. Jadi sebenarnya paket-paketan ini efektif nggak sih kalian? Kalau saya pribadi sih nggak. Dulu ya, zaman saya (ceritanya baru dua tahun lalu sih), empat atau lima paket saja, saya yang orangnya pencemas sudah panik duluan sebelum ujian. Padahal kita kan bukan disuruh kerjain semua paket. Tapi ya itu, bisa panik duluan.

Saya setuju kalau tahun depan UN dihapuskan. Kamu?

Friday, April 12, 2013

Laporan Hasil Wawancara


BAB 1
PENDAHULUAN


        1.1      LATAR BELAKANG
Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Tentunya, untuk mentransformasikan suatu materi agar tidak hanya diterima tetapi juga dipahami dan dapat diaplikasikan ke dalam kehidupannya, dibutuhkan seseorang yang mampu melakukannya dengan baik. Pembelajaran yang sukses bertumpu pada seorang guru yang baik pula, baik dari karakter, pengetahuan, dan keterampilan yang dimilikinya.
Kesuksesan proses pengajaran juga turut dipengaruhi oleh fasilitas yang tersedia, yaitu salah satunya teknologi. Kehadiran teknologi yang semakin canggih diharapkan membantu meningkatkan kebaikan dari proses pembelajaran. Teknologi bisa saja menjadi berbahaya jika disalahgunakan. Namun semua itu kembali lagi kepada guru yang menjadi pemimpin dan pengatur jalannya proses pembelajaran. Apakah akan menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas tugas mengajarnya atau untuk menggantikan posisinya dan bahkan mengambil alih tanggung jawabnya sebagai guru.

        1.2   TUJUAN
Wawancara ini dilakukan bertujuan untuk mendapatkan data empiris sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan:
-          Bagaimana guru yang memenuhi kriteria guru yang baik?
-          Apa motivasi yang mendasari guru untuk mengajar?
-          Apa filosofi guru dalam mengajar?
-          Apa pendekatan yang digunakan guru dalam mengajar?
-          Bagaimana sudut pandang guru dalam melihat peserta didik?
-          Bagaimana pandangan guru tentang pendidikan?
        
        1.3   MANFAAT
Adapun manfaat dari wawancara ini adalah:
-          Memberikan sumbangan ilmu kepada guru-guru lainnya dan kepada
       mahasiswa yang mengambil mata kuliah Paedagogi
-     Sebagai bahan referensi pengalaman mengajar dari guru professional


BAB 2
HASIL WAWANCARA


  2.1   IDENTITAS GURU
           -    NAMA                   :      Drs. Z
           -    SERTIFIKASI             :      Sudah    /   Belum
           -    LAMA MENGAJAR    :      22 tahun
           -    GURU PELAJARAN    :      Ekonomi & Akuntansi

  2.2   KETERANGAN WAWANCARA
         TEMPAT     :   Lt. 4 SMA Harapan 3
         TANGGAL   :  Rabu, 10 April 2013
         WAKTU      :   16.30 WIB

2.3       HASIL WAWANCARA
   
Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan mengajar atau mendidik?
    Mengajar adalah memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa tentang apa yang tidak diketahui sampai siswa tsb mengetahuinya dan mampu mengaplikasikan ilmu tsb ke kehidupannya. Sedangkan mendidik adalah memberikan didikan kepada siswa, layaknya orang tua kepada anaknya, meliputi pengajaran dan bimbingan. Mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berbeda, namun ada hubungannya dan harus berjalan seimbang.

Apa yang memotivasi Anda untuk menjadi seorang pengajar?
      Motivasinya adalah bagaimana caranya ilmu yang saya miliki bisa diterapkan kepada siswa dan kemudian bisa disumbangkan lagi oleh siswa tersebut kepada orang lain. Karena menurut saya, ilmu yang kita miliki akan bertambah jika ilmu tsb berpindah ke orang lain. Dengan begitu, selain menambah ilmu, kita juga menambah amal, kebajikan, dan kepuasan batin. Apalagi jika siswa dapat memahami yang saya sampaikan, maka kita berhasil.

Pernahkah Anda merasa salah untuk memilih profesi sebagai pengajar?
   Sebenarnya ya. Pada awalnya, saya tidak ingin menjadi guru, melainkan menjadi dokter. Namun karena saya adalah anak keempat dari enam bersaudara dan keinginan menjadi dokter tidak dapat tercapai dengan alasan dana. Jika dipaksakan, bisa jadi kuliah saya akan putus di tengah jalan. Kebetulan, ibu kandung saya adalah guru yang menyarankan saya untuk kuliah pendidikan di Unimed saja. Saya memutuskan masuk saja dan mencoba menjalani. Dengan keikhlasan, akhirnya menjadi guru adalah tujuan hidup saya. Alhamdulillah, terlaksana sampai sekarang walaupun terkadang jenuh.

Filosofi apa yang Anda gunakan dalam mengajar?
     Filosofi mengajar saya dapatkan dari guru akuntansi saya di SMEA dulu. Profil beliau sangat saya banggakan dan idolakan. Apa yang beliau sampaikan dulu, sekarang saya terapkan. Baik teknik mengajarnya, metodenya, bahkan temperamen saya dalam mengajar mengikuti jejak beliau. Hal itu karena apa yang dilakukannya dengan siswa terbukti berhasil. Sosok beliau lah yang saya contoh.

Pendekatan apa yang Anda gunakan dalam mengajar?
      Lebih memusatkan kepada siswa. Bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang dialami siswa dengan menerapkan ilmu-ilmu jiwa dan psikologi yang pernah saya dapat di kuliah dulu. Misalnya, bagaimana memotivasi siswa yang malas atau solusi bagi siswa yang bandel. Pendekatan yang lembut dan sabar adalah kuncinya.

Hal penting seperti apa yang perlu dimiliki seorang guru?
      Guru yang baik adalah guru yang mampu memberikan contoh kepada siswanya dan patut ditiru; penampilan; kewibawaan; penguasaan materi.

Anda ingin dilihat sebagai guru yang seperti apa?
     Saya ingin dilihat dari sisi penampilan. Saya juga ingin disegani, bukan ditakuti. Karena ditakuti berarti anak tidak mau dekat dengan kita. Juga dihormati. Pendapatan bukan hal utama untuk dilihat sebagai guru yang baik.

Mana yang lebih penting, guru yang menguasai materi atau guru yang mampu menjalin hubungan baik dengan siswanya? Mengapa?
     Dua-duanya. Ketika kita mampu menguasai materi, siswa akan mendekat. Jika kita tidak mampu menguasai materi, siswa akan mencari guru lain. Bagi saya, kita harus memiliki kemampuan dulu baru bisa melakukan pendekatan.

Sebagai seorang guru, bagaimana Anda memandang seorang siswa?
    Bagaikan memandang anak sendiri. Karena pada prinsipnya, setiap anak adalah ciptaan Allah yang harus kita bina sehingga kualitas anak tsb meningkat.

Apa masalah terbesar yang pernah dihadapi saat mengajar?
     Masalah terbesar saya adalah motivasi siswa yang anjlok. Kesalahan seperti ini mungkin adalah peran serta pemerintah, seperti seringnya berganti kurikulum atau kebijakan. Salah satunya adalah Ujian Nasional (UN). Paket UN yang sekarang sudah 20 paket, membuat sekolah berusaha memastikan kelulusan siswanya dengan cara negative sehingga membuat motivasi belajar siswa menurun. Kalaupun ada bantuan-bantuan, peran orang tua lah yang proaktif kepada anaknya untuk tetap menekankan pentingnya belajar.

Apakah Anda pernah mendengar pedagogi? Jika ya, apa yang Anda ketahui tentang pedagogi?
     Yang saya pelajari dulu, pedagogi adalah ilmu untuk mengajar. Kita dididik untuk bisa menyalurkan ilmu yang kita miliki ke anak. Jadi, kita harus menguasai ilmu untuk mendidik itu sepenuhnya. Jika kita tidak mampu, bisa jadi siswa mengolok atau mengejek kita. Pedagogi mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang guru yang baik, bersahaja, dan disukai peserta didik.

Apakah ada aplikasi pedagogi yang diketahui atau dipelajari dengan proses pengajaran sekarang?
Ya, ada.

Apakah Anda termasuk tipe guru yang mempersiapkan proses pengajaran secara sistematis di awal atau tipe guru yang menerapkan prinsip ‘Let It Flow’ dalam proses pengajaran?
     Dulu di awal mengajar, semua saya siapkan di awal. Tetapi karena materi yang disampaikan tiap tahun bersifat monoton, jadi di tahun ke depannya tidak dilakukan lagi, hanya mengacu pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Berkaitan dengan teknologi yang semakin berkembang, apakah Anda menggunakan teknologi tertentu dalam pengajaran?
    Menggunakan laptop untuk tugas. Tapi juga digunakan untuk kelancaran pengajaran. Di kelas ada in focus / proyektor. Pembelajaran dengan in focus menjadi lebih mudah untuk penyajian materi. Jika dibandingkan dengan manual (papan tulis dan spidol), tidak efektif karena materi harus ditulis lagi. Dengan adanya laptop dan in focus, apalagi ada power point, kita tinggal menuliskan dalam bentuk poin saja lalu dijelaskan sedikit-sedikit.

Apakah teknologi tersebut membantu proses pengajaran?
      Bagi saya, kehadiran teknologi sangat membantu karena lebih efektif dan tidak membuang waktu. Siswa juga dimudahkan dengan bantuan teknologi dalam pekerjaannya. Contoh, siswa yang ingin mencatat materi cukup mencatat dari slide, tidak perlu lagi merangkum dari buku.

Bagaimana tanggapan Anda tentang pendidikan di Indonesia sekarang?
      Kacau. Banyak yang mengganjal. Jika dulu, motivasi belajar siswa sangat tinggi meskipun menghadapi berbagai kesulitan dibandingkan anak sekarang. Ditambah peraturan yang sudah dibuat dan sudah bagus dirubah lagi membuat pendidikan tidak bisa maju. Salah satu contohnya UN. Menjadi momok bagi siswa, karena mereka juga kurang belajar dan tidak ada kesiapan sehingga hanya mengharapkan bantuan. Saya juga berharap kepada pemerintah untuk menentukan satu hal yang dapat dipastikan untuk menjadikan pendidikan lebih baik.

Seandainya Anda dapat menyampaikan sesuatu, apa yang Anda inginkan untuk pendidikan, khususnya guru-guru di Indonesia?
       Adalah bagaimana caranya dapat bekerja sama untuk menciptakan mutu siswa yang akan tamat yang mampu mengaplikasikannya langsung ke perguruan tinggi. Mengajar tidaklah hanya mengharap materi, tetapi keberhasilan menjadikan siswa mampu membawa nama baik lulusannya ketika nanti mengabdi di instansi masyarakat. Intinya, jangan mengajar hanya untuk uang dan uang.


BAB 3
PEMBAHASAN


3.1     KUALITAS GURU YANG BAIK
Dari situs http://www.ripplesofimprovement.com yang dituliskan kembali oleh Prof. Dr. Sudarwan Danim di bukunya, terungkap Top 10 kualitas guru yang baik, yaitu:
   v                 Confidence
Guru yang baik tetap memiliki kepercayaan diri, meskipun sesekali merasakan kemunduran. Guru yang baik menghadapi semua situasi dan waktu yang bisa saja dianggapnya sebagai kemunduran. Guru yang percaya diri juga tidak menyalahkan kesalahan yang dilakukannya, tetapi menyadari kesadarannya karena guru juga manusia biasa.
      Bapak Z cukup percaya diri. Terlihat dari pakaiannya yang modis dan masih rapi pada saat wawancara. Dari cara pak Z menjawab pertanyaan dari pewawancara juga menunjukkan bahwa beliau percaya diri dengan jawabannya.

   v                 Patience
Guru yang sabar adalah yang mampu menghadapi sesuatu yang sebenarnya bukan lagi tugas utamanya. Guru tersebut bersedia terus menjelaskan sampai siswa mengerti yang disampaikannya. Guru yang baik bersedia melakukan apa yang perlu dilakukan, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
            Bapak Z termasuk guru yang sabar. Meskipun waktu pelaksanaan wawancara bukan lagi jam yang biasa baginya untuk berada di sekolah, namun beliau bersedia diganggu waktunya untuk membantu saya mendapatkan data. Seperti yang disebutkan di dalam wawancara mengenai pendekatan, pak Z bersedia menilai dan mencari tahu lebih dalam lagi masalah yang mengganggu siswanya, padahal hal seperti itu bukan lagi kewajibannya. Selain itu, beliau juga menyebutkan langsung bahwa sabar menjadi salah satu kunci sukses pengajaran.

   v                 True Compassion for Students
Memiliki rasa kasih sayang yang tulus pada siswa merupakan salah satu kriteria. Guru terbaik peduli dengan siswanya secara individu, baik di dalam dan di luar kelas.
           Seperti yang disebutkan di dalam wawancara, pak Z mendidik siswanya seperti anak sendiri. Dari pernyataan ini, saya mengkategorikan beliau sebagai guru yang tulus kepada siswanya, karena tidak mungkin beliau memberikan kasih sayang palsu kepada anak kandungnya jika memang ia menyamakan siswa dengan anak kandungnya.

   v                 Understanding
Guru yang baik memiliki pemahaman yang benar tentang konsep mengajar atau mendidik. Mereka tidak memiliki teknik yang kaku demi kemudahan dan kelancaran pembelajaran siswa. Siswa menghendaki guru yang memperlakukan mereka sebagai manusia, bukan hanya sebagai siswa semata.
        Dari konsep mendidik yang disebutkan pak Z di awal, jelas sekali beliau paham bahwa mendidik atau mengajar bukan hanya memberikan ilmu kepada siswa, membuat siswa paham dan mengaplikasikan ilmunya, tetapi juga memberikan bimbingan agar siswa menjadi individu yang lebih berkualitas di kehidupannya.

   v                 The Ability to Look at Life in a Different Way
Kemampuan melihat kehidupan dengan cara yang berbeda dan menjelaskan topic dengan cara yang berbeda. Hal ini karena tidak semua siswa dapat menyerap materi seperti yang diajarkan oleh setiap guru sama tepat.
         Dalam wawancara kali ini, saya tidak mendapatkan data yang mendukung bahwa bapak Z memiliki kriteria ini.

   v                 Dedication to excellence
Dedikasi guru untuk mencapai keunggulan bagi siswanya dan dirinya sendiri.
          Jelas sekali bapak Z berdedikasi kepada keunggulan bagi dirinya dan siswanya. Terbukti dari pesannya bahwa guru-guru harus bekerja sama untuk meningkatkan mutu siswa. Selain itu juga standar keberhasilannya adalah kemampuan siswa memahami yang disampaikannya juga menunjukkan dedikasinya terhadap keunggulan.

   v                 Unwavering Support
Guru yang baik akan teguh dalam memberikan dukungan kepada siswanya. Mereka mendorong siswa-siswa yang mungkin kurang mampu untuk tetap berprestasi.
Terlihat dari jawaban bapak Z yang menggunakan ilmu psikologi dalam pengajarannya. Artinya, ia tidak melihat karakter siswa dari satu sisi saja. Tetapi mencoba mencari tahu dan mendukung siswa bermasalah tersebut menjadi lebih baik.
    
   v                 Willingness to Help Student Achieve
Kesediaan guru untuk membantu siswa berprestasi. Guru tsb tahu bahwa berprestasi tidak hanya berhasil dalam mencapai nilai tertinggi, tetapi bagaimana manfaatnya dalam kehidupan.
       Dari definisi mengajar yang disampaikan bapak Z sendiri sudah jelas bahwa beliau ingin siswanya berprestasi untuk kepentingan hidup siswa itu sendiri dan untuk kepuasan batinnya.

   v                 Pride in Student’s Accomplishments
Bangga akan prestasi siswanya. Hal itu menjadi kehormatan baginya telah membantu siswanya berprestasi.
Sebelum wawancara dan proses rekaman, pak Z bercerita tentang keberhasilan siswanya yang kembali menjuarai olimpiade tingkat provinsi. Dari nada bicara dan senyumnya yang tulus, terlihat bahwa beliau bangga sekali dengan pencapaian siswanya.

   v                 Passion for Life
Guru yang baik tidak hanya tertarik pada bidang tugasnya, namun juga bersemangat tetang hal lainnya. Mereka menghadapi tugas sebagai tantangan, bukan rutin semata.
Dari hasil wawancara, saya tidak menemukan data yang mendukung kriteria ini. Namun jika dilihat dari lamanya waktu mengajar selama 22 tahun dan tidak memiliki kegiatan lain selain mengajar, Bapak Z tidak memiliki kriteria ini. Sepertinya beliau melakukan kegiatan mengajar sebagai kegiatan rutin.


BAB 4
KESIMPULAN

  
v                 Bapak Z, sebagai narasumber, termasuk dalam kriteria guru yang baik menurut top 10 kriteria guru yang baik yang dituliskan di sumber pustaka (Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi oleh Prof. Dr. Sudarwan Danim)
v                 Dari 10 kriteria yang dijelaskan, hasil wawancara menunjukkan bahwa Bapak Z memiliki 8 dari 10 kriteria guru yang baik
v                 Motivasi Bapak Z dalam mengajar adalah bagaimana menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada lebih banyak lagi orang agar ilmu itu bermanfaat
v                 Filosofi Bapak Z dalam mengajar tidak dijelaskan secara spesifik. Namun Bapak Z menyebutkan bahwa beliau mengajar dengan mencontoh guru akuntansi di masa SMEA dahulu yang menurutnya merupakan sesosok guru yang berhasil.
v                 Pendekatan yang digunakan Bapak Z dalam mengajar adalah memusatkan pembelajaran kepada siswa, juga memahami siswa tidak hanya dari segi pendidikan tetapi juga psikologisnya.
v                 Sudut pandang Bapak Z dalam melihat peserta didik adalah bagaikan memandang anaknya sendiri, dimana anak merupakan ciptaan Tuhan yang harus dibina dan ditingkatkan kualitasnya
v                 Pandangan Bapak Z terhadap pendidikan adalah bahwa pendidikan di Indonesia sekarang kacau. Apalagi dengan ketidakkonsistensian pemerintah dalam menetapkan kebijakan yang secara langsung menurunkan motivasi belajar anak


BAB 5
TESTIMONI & SARAN


5.1       TESTIMONI
Saya cukup senang mengerjakan tugas ini dan cukup puas dengan  hasil wawancara yang saya lakukan walaupun masih ada beberapa hal yang kurang saya perdalam lagi saat wawancara berlangsung.
Proses wawancara berjalan lancar, walaupun ada sedikit masalah dalam mengatur jadwal wawancara sebelumnya. Yang cukup bermasalah bagi saya adalah membuat kesimpulan. Dengan data dari hasil wawancara yang saya lakukan, saya merasa belum cukup untuk membuat suatu kesimpulan, apakah guru tersebut termasuk guru yang baik atau tidak. Saya merasa data saya masih sangat dangkal, mungkin karena teknik wawancara saya yang masih belum sempurna.

5.2       SARAN
Ada beberapa saran yang dapat saya berikan terkait dengan kegiatan wawancara dengan guru, yaitu :
-   Buat janji dengan guru tersebut dan pastikan bahwa guru tersebut hanya akan menjadi narasumber kita.
- Lakukan persiapan yang matang sebelum wawancara. Persiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada saat wawancara agar informasi yang diberikan guru dapat dikontrol dan tidak terlalu melebar. Perdalam setiap informasi dan catat poin-poin yang memang dibutuhkan untuk diketahui secara mendalam.
-  Rekam proses wawancara yang berlangsung. Selain sebagai dokumentasi yang menunjukkan bahwa wawancara benar dilakukan, rekaman sangat membantu dalam mengerjakan laporan. Sehingga data dari hasil wawancara tidak kurang ataupun berlebihan. akukan persiapan yang matang sebelum wawancara. Persiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada


BAB 6
DAFTAR PUSTAKA

Danim, S.  & Khairil. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung : Alfabeta




Tuesday, April 9, 2013

Review yang Mendebarkan ;)


Pada 8 April 2013, sesuai dengan yang tertulis di kontrak, bahasan hari ini adalah Pedagogi, TIK, dan Fenomena Kontemporer. Malam 7 April 2013, saya sudah baca sedikit tentang topik ini sambil membuat catatan kecil untuk review yang rencananya akan dilaksanakan keesokan harinya.
Senin ini, bu Dina sudah mengingatkan bahwa akan ada review dari topik awal. Oh ya, bu Dina juga baik sekali memberikan clues untuk ujian tengah semester. Kisi-kisi seperti ini sangat penting, terutama bagi saya yang kesulitan menghafal. Dengan adanya kisi-kisi fokus perhatian saya bisa ke topik-topik yang ditentukan secara lebih dalam lagi. Oke, back to the topic!

Review dimulai dengan topik Pedagogi Abad 21. Satu persatu dari kami dipanggil maju ke depan. Saya sempat kalang kabut karena saya menghafal dalam bagian Paedagogi dan Paradigma Belajar. Tetapi, benar masukan dari bu Dina saat saya yang dipanggil maju ke depan.
Jadi, pada saat dipanggil dan diminta menguraikan yang saya pahami tentang Pedagogi Abad 21, alhamdulillah saya bisa menguraikannya dengan baik berikut contoh-contoh langsung yang insya Allah memudahkan teman-teman lainnya dalam memahami. Tetapi kemudian bu Dina bertanya tentang studi sistematis, saya diam sejenak karena saya tidak terlalu membaca bagian tersebut. Akhirnya saya menjawab “Saya tidak terlalu fokus pada bagian itu,”. Sungguh itu jawaban yang sangat tidak dewasa, Reds  L
Lalu bu Dina memberi feedback bahwa saya tidak bisa seperti itu, tidak memfokuskan pada satu hal karena semua itu berhubungan. Saya sih, tipe orang yang bisa langsung kepikiran kalo diberi feedback, apalagi negative, bisa agak sesak nafas malah kalau feedback tersebut sampai menyinggung hati saya. Saya paham kok, feedback bu Dina pada saat itu memang negative tapi sangat membangun. Setelah saya duduk, saya renungkan kembali feedback itu (tetap gelisah dan kepikiran, ceritanya). Saya terbayang gelang rantai. Ibaratnya, semua rantai itu berhubungan. Kalau ada satu saja yang hilang, maka gelang itu tidak sempurna. Sama seperti pemahaman yang tadi, saya tidak boleh tidak memfokuskan diri seperti itu karena semuanya berhubungan. Insya Allah  akan saya perbaiki, Reds.
Topik kedua berkaitan dengan topik yang seharusnya menjadi kuliah hari ini. Saya kira topik ini tidak masuk review  x_x  Jadilah saya rebut membuka halaman buku mencari topik ini. Setelah membaca dan menyimak dari beberapa uraian teman-teman yang maju ke depan, berikut adalah pemahaman saya tentang topic Pedagogi, TIK, dan Fenomena Kontemporer.
1.      Pertanyaan Esensial
Semakin berkembangnya zaman dengan teknologi yang canggih, banyak sekolah yang lebih fokus kepada bagaimana peserta didik menguasai teknologi yang ada, daripada memikirkan bagaimana melakukan peningkatan peserta didik dari segi pedagogi. Jadi, pertanyaan esensial adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai strategi masalah pedagogi. Ada 8 pertanyaan esensial, yaitu:
-          Penilaian kebutuhan
-          Pertumbuhan professional
-          Budaya kelas
-          Strategi
-          Pengelolaan sumber daya kelas
-          Pemecahan masalah
-          Orkestrasi
-          Penggunaan TIK
Diharapkan, dengan menjawab pertanyaan esensial di atas, pendidik dapat meningkat kualitas pengajaran melalui evaluasi-evaluasi dari pertanyaan esensial yang dijawab.

2.      Pedagogi Efektif
Bagian ini berisi tentang bagaimana seharusnya siswa belajar paling baik. Jadi, ada beberapa situasi dimana guru dapat menyediakan proses pembelajaran yang paling baik bagi siswa, yaitu:
-          Guru menciptakan lingkungan yang menunjang pembelajaran
-          Guru mendorong pemikiran reflektif dan tindakan
-          Guru meningkatkan relevansi pembelajaran baru
-          Guru memfasilitasi pembelajaran bersama
-          Guru membuat koneksi pembelajaran dengan pengalaman
-          Guru memberikan kesempatan untuk belajar
-          Guru menyelidiki hubungan belajar-mengajar

3.      TIK dan Pedagogi
Sudah pernah, kan, dengar e-learning ? Pasti sudah, di postingan saya tahun lalu juga ada kok. E-learning adalah belajar yang didukung atau difasilitasi oleh TIK. Berguna tidak sih e-learning ini? Jelas berguna! Tapi... kalau tetap tidak melupakan dimensi pedagogi. Maksudnya bagaimana? Jangan sampai, kehadiran TIK yang diciptakan sebagai daya dukung pembelajaran benar-benar menggantikan kehadiran guru, apalagi mengambil alih tanggung jawab guru. Tapi bukan tidak ada sih guru-guru yang merelakan dirinya diganti dengan TIK. Secara, dengan bantuan TIK, akan sangat memudahkan tugas mereka. Tapi, menurut saya sih, mereka bukan guru. Hanya seorang yang dipanggil guru.

Di akhir pertemuan, bu Dina tidak lupa mengingatkan kami untuk belajar lebih dalam. Bu Dina juga menanyakan apa hubungan Pedagogi Abad 21 dengan pembelajaran kami pada hari itu. Saya sebenarnya mau menjawab, tetapi saya malu hehehe. Saya takut salah, padahal bu Dina sudah mengingatkan  bahwa tidak ada yang salah. Yang mau saya jawab adalah, pembelajaran hari itu berhubungan dengan pedagogi efektif, dimana kami sebagai peserta didik dipanggil maju ke depan seperti itu untuk memahami apa yang kami pelajari dan mengapa kami perlu mempelajari hal itu. Benar tidak ya? Sudah lah, itu pendapat saya, Reds.
Oh ya, bu Dina juga bertanya tentang pertanyaan esensial mana yang berkaitan dengan metode maju satu-satu ke depan. Itu juga saya tidak berani jawab karena takut salah. Oalah. Padahal saya mau jawab, pertanyaan esensial yang berkaitan adalah pertanyaan tentang budaya kelas : bagaimana cara menumbuhkan budaya kelas untuk belajar?. Kenapa saya pilih itu? Ya, coba dibayangkan saja. Mungkin kalau bu Dina tidak memberikan metode seperti itu, akan banyak teman-teman yang tidak membuka bukunya supaya tidak rusak. Hehe. Coba pagi itu, lembar buku dibuka rebut sekali ketika sudah ada satu pertanyaan diajukan. Berhasil, Bu!

Oke, Reds. Sekian dulu postingan saya tentang pertemuan saya tanggal 8 April 2013. Semoga yang membacanya mendapatkan sesuatu yang berguna. Amin!
SELAMAT UTS!!!!!!! J J J
selamat datang begadang L L L L